Senin, 20 Agustus 2018

Dharma Wacana Hindu

Berbicara mengenai dharma wacana, saya jadi teringat waktu saya masih duduk di bangku sekolah SMA, dapat tugas untuk membawakan Dharma wacana di Pura. Berikut naskah Dharma Wacana yang bisa saya bawakan saat diberikan tugas oleh guru Agama Hindu di Sekolah. Mengenai bahasa yang saya gunakan masih belum sempurna, karena saya baru belajar. Bila teman-teman ingin membuat naskah darma wacana, mungkin naskah yang saya posting ini bisa menjadi gambaran sederhananya untuk belajar. Semoga bermanfaat..


Naskah Dharma Wacana
Catur Asrama
Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada tyang untuk menyampaikan sepatah kata dharma pada persembahyangan rahine mangkin. Namun sedurungne tyang lanjut, sambutlah panganjali umat dari tyang Om Svastyastu......
Ide Pinandita sane banget tyang sucikan , Bapak PHDI beserta jajarannya sane tyang hormati, bapak/ibu umat sudharma sane berbahagia yang tyang hormati pula.. Pada kesempatan kali ini tyang akan menyampaikan sepatah kata dharma yang bertema Catur Asrama. Tyang berdiri di sini bukan untuk menggurui umat sedharma melainkan hanya ingin mengingatkan kembali apa yang dimaksud dengan Catur Asrama dan bagian-bagiannya.
Umat sedharma dalam kasih Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Catur Asrama berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari dua kata yaitu “ Catur “ dan “ Asrama “. Catur yang berarti empat, dan Asrama yang berarti tempat, lapangan atau jenjang kehidupan yang harus dilalui berdasarkan tatanan rohani , waktu, umur, dan prilaku manusia.
Umat sedharma dalam kasih Ida Sang Hyang Widhi Wasa, adapun bagian – bagian dari Catur Asrama, yaitu :
1.      Brahmacari
Brahmacari terdiri dari dua kata yaitu “Brahma”  dan  “cari”. Brahmacari merupakan ilmu pengetahuan dan cari merupakan tingkah laku dalam mencari atau menuntut ilmu pengetahuan. Jadi Brahmacari adalah masa menuntut ilmu pengetahuan. Tugasnya adalah belajar.
2.      Grhasta
Grhasta adalah jenjang kehidupan yang kedua setelah brahmacari. Dapat juga diartikan tingkat kehidupan pada waktu membina rumah tangga. Grhasta berasal dari kata “grha” yang artinya rumah, dan “Stha” yang artinya berdiri atau membina. Masa grhasta memiliki tugas melanjutkan keturunan.

3.      Wana Prastha
Kata wana prastha berasal dari bahasa sanskerta yang terdiri dari “wana” yang berarti pohon kayu, dan “prastha” yang berarti berjalan atau berdo’a. Jadi wana prastha adalah hidup mengasingkan diri ke hutan dalam arti mulai mengurangi ikatan keduniawian.
Manfaatnya ialah:
Ø  Untuk mencapai ketenangan kerohanian
Ø  Melepaskan diri dari keterikatan keduniawian

4.      Bhiksuka
Kata bhiksuka berasal dari kata bhiksu yang artinya meminta-minta. Bhiksuka ialah tingkat kehidupan yang melepaskan diri dari ketertarikan keduniawian dan hanya mengabdikan diri kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Seorang bhiksuka, di dalam menyebarkan ajaran – ajaran tidak boleh mempunyai apa –apa , makanpun ditanggung oleh siswanya. Inilah yang dimaksud dengan peminta-minta.
Umat sedharma dalam kasih Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang tyang hormati, dari uraian tadi dapat tyang simpulkan bahwa Catur Asrama ini sangat penting dalam kehidupan sehari – hari karena agar kita bisa hidup dengan harmonis, damai dan tenang dalam kehidupan.
 Umat sedharma dalam kasih Ida Sang Hyang Widhi Wasa, mungkin hanya demikian sepatah kata dharma yang dapat tyang sampaikan pada kesempatan kali ini. Tyang minta maaf yang sebesar-besarnya bila mana dalam penyampaian tyang tadi terdapat kesalahan-kesalahan baik yang tyang sengaja maupun yang tidak tyang sengaja karena tyang masih dalam proses pembelajaran. Akhir kata tyang ucapkan terima kasih dan paramasanthi
Om Santhi, Santhi, Santhi Om





Dok. Made Suwirna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar