Selasa, 21 Agustus 2018

Dharma Wacana Hindu


Om swastyastu,
Apa kabar teman-teman semua para pembaca? Smoga slalu dalam lindungan Ida SangHyang Widhi Wasa. Kali ini saya kembali memposting naskah dharma wacana yang merupakan bagian dari tugas sekolah saya dulu. Adapun judulnya adalah Catur Marga, mengenai penjelasan tentang catur marga itu sendiri saya peroleh dari buku Agama Hindu. Berikut ini saya berikan naskah Dharma Wacananya, smoga bermanfaat untuk teman-teman para pembaca...


CATUR MARGA

Terima kasih atas waktu dan kesempatan yang telah di berikan kepada saya untuk menyampaikan sepatah atau dua patah kata dharma dalam persembahyangan hari raya Saraswati ini. Namun sebelum saya lanjut sambutlah pangenjali umat dari saya “ Om Swastyastu”.
Jero mangku yang saya sucikan, Bapak PHDI beserta jajarannya yang saya hormati dan umat sedharma sekalian yang saya muliakan.
Umat sedharma dalam kasih dan lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berbahagia , kita sebagai umat beragama patutlah kita panjatkan puja dan puji syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena atas asungkerta waranugraha-Nyalah kita masih di berikan kesehatan sehingga dapat berkumpul di tempat yang suci ini, untuk melakukan persembahyangan.
Umat sedharma dalam kasih dan lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berbahagia, dalam kesempatan kali ini saya akan menyampaikan dharma wacana dengan judul Catur Marga.
Umat sedharma dalam kasih Ida Sang Hyang Widhi Wasa, kata Catur Marga berasal dari akar kata “ Catur” yang berarti empat, dan “Marga” yang berarti jalan. Jadi Catur Marga artinya empat jalan / cara untuk dapat mencapai moksa.
Umat sedharma dalam kasih dan lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, adapun bagian – bagian dari Catur Marga diantaranya yaitu:
1.        Bhakti Marga
Yaitu proses atau cara mempersatukan atma dengan berlandaskan atas dasar cinta kasih yang mendalam kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan segala ciptaannya.
2.      Karma Marga
Yaitu jalan atau usaha untuk mencapai kesempurnaan / moksa dengan karma atau perbuatan yang baik tanpa pamrih.
3.      Jnana Marga
Yang berasal dari kata “Jnana” artinya kebijaksanaan filsafat (pengetahuan). “Marga” yang artinya jalan / cara. Jadi Jnana Marga artinya mempersatukan jiwatman dengan Parama atma yang dicapai dengan jalan mempelajari dan mengamalkan ilmu pengetahuan.
4.      Raja Marga
Yaitu suatu jalan mistik (rohani) untuk mencapai kelepasan atau moksa.
Umat sedharma dalam kasih dan lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berbahagia, mungkin cukup sekian kata dharma yang sempat saya sampaikan dalam persembahyangan kali ini. Namun sebelum saya tutup jika ada kata – kata yang salah, baik saya sengaja maupun tidak disengaja saya mohon maaf, karena saya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan akhir kata saya tutup dengan paramasanthi
“Om Santhi,,Santhi,,Santhi,,Om,,”




























Dok. Made Suwirna

Senin, 20 Agustus 2018

Dharma Wacana Hindu

Berbicara mengenai dharma wacana, saya jadi teringat waktu saya masih duduk di bangku sekolah SMA, dapat tugas untuk membawakan Dharma wacana di Pura. Berikut naskah Dharma Wacana yang bisa saya bawakan saat diberikan tugas oleh guru Agama Hindu di Sekolah. Mengenai bahasa yang saya gunakan masih belum sempurna, karena saya baru belajar. Bila teman-teman ingin membuat naskah darma wacana, mungkin naskah yang saya posting ini bisa menjadi gambaran sederhananya untuk belajar. Semoga bermanfaat..


Naskah Dharma Wacana
Catur Asrama
Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada tyang untuk menyampaikan sepatah kata dharma pada persembahyangan rahine mangkin. Namun sedurungne tyang lanjut, sambutlah panganjali umat dari tyang Om Svastyastu......
Ide Pinandita sane banget tyang sucikan , Bapak PHDI beserta jajarannya sane tyang hormati, bapak/ibu umat sudharma sane berbahagia yang tyang hormati pula.. Pada kesempatan kali ini tyang akan menyampaikan sepatah kata dharma yang bertema Catur Asrama. Tyang berdiri di sini bukan untuk menggurui umat sedharma melainkan hanya ingin mengingatkan kembali apa yang dimaksud dengan Catur Asrama dan bagian-bagiannya.
Umat sedharma dalam kasih Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Catur Asrama berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari dua kata yaitu “ Catur “ dan “ Asrama “. Catur yang berarti empat, dan Asrama yang berarti tempat, lapangan atau jenjang kehidupan yang harus dilalui berdasarkan tatanan rohani , waktu, umur, dan prilaku manusia.
Umat sedharma dalam kasih Ida Sang Hyang Widhi Wasa, adapun bagian – bagian dari Catur Asrama, yaitu :
1.      Brahmacari
Brahmacari terdiri dari dua kata yaitu “Brahma”  dan  “cari”. Brahmacari merupakan ilmu pengetahuan dan cari merupakan tingkah laku dalam mencari atau menuntut ilmu pengetahuan. Jadi Brahmacari adalah masa menuntut ilmu pengetahuan. Tugasnya adalah belajar.
2.      Grhasta
Grhasta adalah jenjang kehidupan yang kedua setelah brahmacari. Dapat juga diartikan tingkat kehidupan pada waktu membina rumah tangga. Grhasta berasal dari kata “grha” yang artinya rumah, dan “Stha” yang artinya berdiri atau membina. Masa grhasta memiliki tugas melanjutkan keturunan.

3.      Wana Prastha
Kata wana prastha berasal dari bahasa sanskerta yang terdiri dari “wana” yang berarti pohon kayu, dan “prastha” yang berarti berjalan atau berdo’a. Jadi wana prastha adalah hidup mengasingkan diri ke hutan dalam arti mulai mengurangi ikatan keduniawian.
Manfaatnya ialah:
Ø  Untuk mencapai ketenangan kerohanian
Ø  Melepaskan diri dari keterikatan keduniawian

4.      Bhiksuka
Kata bhiksuka berasal dari kata bhiksu yang artinya meminta-minta. Bhiksuka ialah tingkat kehidupan yang melepaskan diri dari ketertarikan keduniawian dan hanya mengabdikan diri kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Seorang bhiksuka, di dalam menyebarkan ajaran – ajaran tidak boleh mempunyai apa –apa , makanpun ditanggung oleh siswanya. Inilah yang dimaksud dengan peminta-minta.
Umat sedharma dalam kasih Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang tyang hormati, dari uraian tadi dapat tyang simpulkan bahwa Catur Asrama ini sangat penting dalam kehidupan sehari – hari karena agar kita bisa hidup dengan harmonis, damai dan tenang dalam kehidupan.
 Umat sedharma dalam kasih Ida Sang Hyang Widhi Wasa, mungkin hanya demikian sepatah kata dharma yang dapat tyang sampaikan pada kesempatan kali ini. Tyang minta maaf yang sebesar-besarnya bila mana dalam penyampaian tyang tadi terdapat kesalahan-kesalahan baik yang tyang sengaja maupun yang tidak tyang sengaja karena tyang masih dalam proses pembelajaran. Akhir kata tyang ucapkan terima kasih dan paramasanthi
Om Santhi, Santhi, Santhi Om





Dok. Made Suwirna